bharatbhasha.net
Free Articles  >>  Education >>  Page 232  >> 

Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa melalui Transdisiplinaritas





PENGEMBANGAN PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER
BANGSA MELALUI TRANSDISIPLINARITAS

Pembangunan karakter dan jati diri bangsa merupakan cita-cita luhur yang harus diwujudkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang terarah dan berkelanjutan. Penanaman nilai-nilai akhlak, moral, dan budi pekerti seperti tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional harus menjadi dasar pijakan utama dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi sistem pendidikan nasional. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (pasal 3).
Tujuan pendidikan nasional jelas telah metekkan dasar-dasar yang kuat dalam menopang pembangunan karakter dan jati diri bangsa. Namun, penyelenggaraan pendidikan telah mengalami degradasi yang sangat mengkhawatirkan, di mana nilai-nilai kearifan lokal telah terbungkus oleh kuatnya arus pendidikan global, kecerdasan pribadi intelektual menjadi ukuran yang lebih dominan untuk menentukan keberhasilan dalam menempuh pendidikan, dan upaya penyeragaman kemampuan telah membelenggu tumbuh dan berkembangnya keragaman kemampuan sebagai pencerminan beragamnya kekayaan budaya bangsa. Akibatnya, menipisnya tatakrama, etika, dan kreatifitas anak bangsa menjadi fenomena yang perlu mendapat perhatian serius dalam menata pendidikan di masa yang akan datang. Oleh karena itu pendidikan budaya dan karakter bangsa dipandang sebagai solusi cerdas untuk menghasilkan peserta didik yang memiliki kepribadian unggul, berakhlak mulia, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keindonesian secara menyeluruh. Namun, hakekat pendidikan budaya dan karakter masih menyisahkan tanda tanya yang begitu dalam, apa sebenarnya yang dimaksud dengan pendidikan budaya dan karakter itu? Mengapa pentingnya pendidikan budaya dan karakter, dan bagaimana mengimplementasikan dalam konteks pendidikan? Sarasehan nasional tentang pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa yang diselenggarakan pada tanggal 14 Januari 2010 diharapkan mampu menjawab berbagai pertanyaan tersebut atau paling tidak menjadi modal kolektif bagi pengambil kebijakan untuk merumuskan sejumlah konsep dasar pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Konsep Pendidikan Karakter
Istilah karakter merujuk pada ciri khas, perilaku khas seseorang atau kelompok, kekuatan moral, atau reputasi. Dengan demikian, karakter adalah evaluasi terhadap kualitas moral individu atau berbagai atribut termasuk keberadaan kurangnya kebajikan seperti integritas, keberanian, ketabahan, kejujuran dan kesetiaan, atau perilaku atau kebiasaan yang baik. Ketika seseorang adalah sebuah karakter moral, hal ini terutama mengacu pada sekumpulan kualitas yang membedakan satu individu dari yang lain (Wood, 2009). Karakter juga dipahami sebagai seperangkat ciri perilaku yang melekat pada diri seseorang yang menggambarkan tentang keberadaan dirinya kepada orang lain. Penggambaran itu tercermin dalam prilaku ketika melaksanakan berbagai aktivitas apakah secara efektif melaksanakan dengan jujur atau sebaliknya, apakah dapat mematuhi hukum yang berlaku atau tidak (Kurtus, 2009). Walaupun prilaku sering dihubungkan dengan kebribadian, tetapi kedua kata ini mengandung makna yang berbeda. Kepribadian pada dasarnya merupakan sifat bawaan, sedangkan karakter terdiri atas prilaku-prilaku yang diperoleh dari hasil belajar.
Sedangkan pendidikan adalah suatu upaya untuk mengembangkan budi pekerti atau dalam bahasa Dewantara (1977, 14) disebut dengan kekuatan batin dan karakter, mengasah kecerdasan intelektual dan jasmani peserta didik. Ketiga aspek ini merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, semuanya terintegrasi dalam suatu rumusan tujuan pendidikan untuk menciptakan manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan nasional merupakan pendidikan yang berasaskan garis kehidupan bangsanya (budaya nasional) yang bertujuan untuk membangun kehidupan yang dapat mengangkat martabat bangsa sehingga dapat bekerja bersama dengan bangsa lain demi membangun peradaban dan kemaslahatan hidup di dunia.
Membangun kepribadian bangsa merupakan cita-cita luhur yang harus selalu dikobarkan karena setiap orang dalam suatu bangsa dilahirkan dengan membawa kecenderungan dan kepribadian tertentu yang berbeda satu sama lain. Banyak orang cenderung menjadi seorang pemalu, sementara yang lain cenderung menjadi orang yang banyak bicara. Beberapa orang mungkin cenderung menjadi pemimpin, sementara yang lain lebih suka menjadi pemikir analitik. Keberagaman ciri dan kecerendungan seperti ini harus dikelola dan kemas dalam suatu proses pendidikan yang diselenggarakan agar dapat menjadi manusia yang memiliki budi pekerti yang tinggi yang dapat membangun bangsanya secara bermartabat dan demokratis.

Pentingnya Pendidikan Budaya dan Karakter
Dalam sejarah pembangunan pendidikan di Indonesia telah banyak upaya dilakukan dan berbagai kebijakan yang menyertainya. Namun, belakangan hasil yang dicapai seolah memberi indikasi bahwa ada sesuai yang hilang (missing) yang belum dapat diwujudkan dalam pendidikan kita. Kemerosotan moral akhlak, etika, dan menurunnya prestasi bangsa memberi sinyalemen kuat bahwa bangsa ini sedang menghadapi dilema, jika tidak dicarikan solusi perbaikan akan menghadapi persoalan yang semakin komplek. Pendidikan Budaya dan karakter adalah salah satu tawaran solusi untuk meminimalisir dangkalnya pemamahan terhadap nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Paling tidak ada beberapa hal mengapa perlunya pendidikan budaya dan karakter diimplementasikan dalam konteks pendidikan.
Pertama, dampak arus globalisasi yang membawa kehidupan menjadi semakin komplek merupakan tantangan baru bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia memasuki milenium ketiga sekarang ini. Persinggungan budaya lokal, nasional, dan budaya-budaya asing adalah bagian yang tak terpisahkan dengan kehidupan kita sehari-hari. Tumbuh kembangnya budaya lokal dan nasional akan menghadapi dilema yang amat besar jika pengaruh budaya asing tidak segera disaring melalui gerakan peduli budaya. Kepedulian terhadap budaya sendiri akan memperkuat pemahaman terhadap nilai-nilai kelokalan yang dapat menyaring hadirnya pengaruh budaya asing yang bisa membawa dampak terhadap dangkalnya pemahaman kita terhadap nilai-nilai keindonesiaan secara menyeluruh. Penguatan nilai-nilai budaya sendiri adalah wujud dari bangkitnya rasa nasionalisme yang mengedepankan kecintaan terhadap bangsa kita sendiri seperti ikrar yang dikumandangkan oleh para pemuda Indonesia melalui “Sumpah Pemuda” yakni kecintaan terhadap tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia. Kebinekaan, diversity, dalam suku, agama, ras, bahasa, dan budaya telah terintegrasi ke dalam kesatuan tujuan untuk membentuk Negara Indonesia, suatu Negara yang berBhineka Tunggal Ika, walaupun berbeda-beda tetapi tetap bersatu, dalam tujuan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdaulat, adil, dan makmur. Begitulah cita-cita luhur para pendiri bangsa ini.
Oleh karena itu, salah satu keunikan bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia adalah warisan multietnik dan multikultur. Keberagaman etnik yang hingga kini mencapai lebih dari 500 etnik yang menggunakan 250 bahasa merupakan kekayaan bangsa yang mesti dipelihara dan dikelola dengan mengedepankan nilai-nilai kemajemukan sehingga masing-masing etnik bukan berdiri sebagai entitas yang tertutup dan independen melainkan saling berinteraksi satu sama lain dan saling bergantung, serta saling mempengaruhi satu sama lain. Prinsip “Bhineka Tunggal Ika” seperti yang disebutkan di atas seharusnya dapat dijadikan kunci pembuka interaksi sosial sehingga terbangun suatu pemahaman lintas budaya dan rasa percaya pada setiap pihak yang terlibat dalam interaksi itu, yang merupakan modal sosial bagi terbentuknya suatu hubungan antar etnik-antar budaya yang sehat, sejahtera dan maju. Dengan demikian, hidup dalam keberagaman dapat dipandang sebagai suatu kekuatan dahsyat dalam membangun nasionalisme struktural menuju bangsa yang mandiri dan bermartabat. Memang, harus diakui bahwa pemahaman dan saling menghargai terhadap keberagaman etnik dan kultur tidak tumbuh dengan sendirinya dalam tatanan kehidupan masyarakat, tetapi harus disosialisasikan melalui tata aturan perundangan, dialog interaktif yang melibatkan seluruh komponen bangsa, media massa, dan melalui pendidikan multikultur yang dapat menfasilitasi terciptanya proses belajar mengajar tanpa adanya kendala perbedaan latar belakang kultural.
Kedua, adanya kenyataan bahwa telah terjadi penyempitan makna pendidikan dilihat dari perspektif penerapannya di lapangan. Pendidikan telah diarahkan untuk membentuk pribadi cerdas individual semata dan mengabaikan aspek-aspek spiritualitas yang dapat membentuk karakter peserta didik dan karakter bangsa, yang merupakan identitas kolektif, dan bukan pribadi (Kartadinata, 2009). Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa dalam sistem pendidikan nasional jelas tertuang bahwa tujuan pendidikan nasional bukan sekadar membentuk peserta didik yang memiliki kecerdasan intelektual dan keterampilan semata, melainkan juga harus beriman, bertakwa, berakhlak mulia, mandiri, kreatif, supaya menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Pendidikan juga berfungsi membangun karakter, watak, serta kepribadian bangsa.
Ketiga, pendidikan yang diselenggarakan saat ini masih didominasi oleh berbagai dogma, dalil-dalil, atau ajaran yang diperoleh dari Barat (Alwasilah, 2009). Padahal secara kultural, pendidikan yang diselenggarakan harus tergali dari nilai luhur bangsa Indonesia sendiri. Berbagai pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) yang telah tertuang dalam berbagai referensi seharusnya dapat dikaji kembali agar dapat dirumuskan dan diimplementasikan. Ranah kognisi, afeksi, dan psikomotorik yang merupakan produk Amerika dalam taksonomi pembelajaran tidak lebih sempurna dari taksonomi KHD yang terdiri atas olah otak, olah rasa, olah hati, dan olah raga. Namun, dalam realitasnya, guru dan para perancang pembelajaran lebih cenderung merujuk pada taksonomi Bloom yang akar spiritualitasnya belum terintegrasikan. Hal ini dilakukan mengingat taksonomi Bloom telah dirumuskan lebih jelas sehingga indikator pencapaiannya mudah diukur dan dievaluasi. Lebih mengkhawatirkan lagi jika memperhatikan fenomena yang terjadi dalam pendidikan formal mulai dari Sekolah Dasar sampai perguruan tinggi, di mana peserta didik lebih suka membaca hasil karya sastra seperti Avatar, Spider Man, Naruto, Harry Porter, dan lain-lain dari pada mengenal hasil karya orang Indonesia sendiri. Di perguruan tinggi misalnya, buku-buku teks yang digunakan lebih banyak diambil dari dari buku-buku Barat dari pada hasil karya orang Indonesia sendiri. Akibatnya, peserta didik lebih mengenal dan mengagungkan hasil karya Barat dari pada hasil karya bangsa sendiri.

Penerapan Pendidikan Budaya dan Karakter melalui Transdisiplinaritas
Sebelum melangkah lebih jauh tentang transdisiplinaritas, perlu memahami kembali hakekat dari pendidikan karakter. Istilah karakter sama dengan budi pekerti atau watak yang merupakan ”bulatnya jiwa manusia.” Budi pekerti, watak, atau karakter adalah bersatunya gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan yang menghasilkan tenaga, di mana budi berarti pikiran, perasaan, dan kemauan, sedangkan pekerti berarti tenaga (Dewantara, 1977: 25). Tenaga dalam bahasa asing dikenal dengan istilah spirit atau spiritual yang berarti roh. Kata ini berasal dari bahasa Latin, spiritus, yang berarti napas. Roh bisa diartikan sebagai energi kehidupan, yang membuat manusia dapat hidup, bernapas dan bergerak (Mitrafm, 2008). Jadi, pendidikan karakter pada dasarnya merupakan pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan spiritual, di mana kecerdasan spiritual diyakini sebagai kecerdasan yang paling esensial dalam kehidupan manusia dibandingkan dengan berbagai jenis kecerdasan lain seperti kecerdasan intelektual, emosional, dan kecerdasan sosial. Sinetar (2002) dalam bukunya ”Spiritual Intelligence: What We Can Learn from the Early Awakening Child” mengatakan bahwa kecerdasan spiritual itu bersandar pada hati dan terilhami sehingga jika seseorang memiliki kecerdasan spiritual, maka segala sesuatu yang dilakukan akan berakhir dengan sesuatu yang menyenangkan. Kecerdasan spiritual berarti kemampuan seseorang untuk dapat mengenal dan memahami diri sepenuhnya sebagai makhluk spiritual maupun sebagai bagian dari alam semesta. Kecerdasan Spiritual melibatkan seperangkat kemampuan untuk memanfaatkan sumber-sumber spiritual. Dengan demikian spiritualitas merujuk pada kemampuan seseorang untuk mencari, elemen-elemen pengalaman, kesucian, kebermaknaan, kesadaran yang tinggi dan transendensi, untuk menghasilkan produk yang yang bernilai (Emmons, 1999). Selanjutnya, Zohar dan Marshall (2000) mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai suatu kecerdasan yang diarahkan untuk menyelesaikan persoalan makna, dan nilai, suatu kecerdasan yang menempatkan tindakan dan kehidupan manusia dalam kontek makna yang lebih luas yakni kemampuan untuk mengakses suatu jalan kehidupan yang bermakna.
Berdasarkan berbagai pandangan di atas, kecerdasan spiritual dapat dipahami sebagai kapasitas hidup manusia (inner-capacity) yang bersumber dari hati yang dalam yang terilhami dalam bentuk kodrat untuk dikembangkan dan ditumbuhkan dalam mengatasi berbagai kesulitan hidup. Namun dalam penerapannya perlu adanya suatu pendekatan yang disebut dengan transdisiplinaritas.
Istilah transdisciplinarity atau transdisiplinaritas mengacu pada aktivitas yang melewati batas-batas disiplin (Nowotny 2003) melalui integrasi dan sintesis konten, teori, dan metodologi dari berbagai disiplin untuk menghasilkan pengetahuan baru (Russell, 2005). Artinya transdisiplinaritas berarti bekerja di antara, melintasi dan melewati berbagai ilmu untuk memperoleh kerangka acuan yang menyatu antar interdisiplinaritas dan multidisiplinaritas, masing-masing berarti mentransfer metode dari satu disiplin ilmu ke disiplin ilmu yang lain dan mempelajari topik yang sama dalam berbagai disiplin ilmu secara bersamaan (Semiawan, 2007).
Untuk memahami konsep transdisiplinaritas lebih komprehensif, perlu menurunkan sejumlah definisi yang diberikan para ahli dalam suatu Simposium yang diselenggarakan oleh Devisi Filosofi dan Etik UNESCO mengenai Transdisciplinarity: Stimulating Synergies, Integrating Knowledge pada tanggal 25 -29 Mei Tahun 1998. Adapun definisi transdisiplinaritas tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Proses di mana batas-batas setiap disiplin yang dibangun secara kultural bersifat transenden (terlampui) dalam rangka untuk mengatasi permasalahan dari berbagai perspektif untuk menghasilkan pengetahuan baru (Jacqueline Russel).
2. Transformasi dan integrasi pengetahuan dari berbagai perspektif yang menarik untuk mendefinisikan dan mengatasi persoalan yang komplek (William Newell).
3. Integrasi dan transformasi bidang pengetahuan dari berbagai perspektif sehingga dapat meningkatkan pemahaman terhadap persolan yang diatasi untuk memperbaiki pilihan-pilihan di masa yang akan datang (Gavan McDonnel).
4. Bukanlah suatu disiplin, melainkan suatu pendekatan, proses untuk meningkatkan pengetahuan dengan mengintegrasikan dan mentransformasi berbagai perspektif gneseologik (Massimiliano Lattanzi).
Oleh karena itu, yang dimaksud dengan transdisiplinaritas adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan dan mentransformasikan pengetahuan dari berbagai perspektif untuk menghasilkan pengetahuan baru.
Dalam hubungannya dengan pendidikan budaya dan karakter yang bermuara pada pengembangan kecerdasan spiritualitas, transdisiplinaritas merupakan suatu pendekatan yang berupaya mentrasformasi dan mengintegrasikan nilai-nilai spiritualitas ke dalam berbagai disiplin lainnya. Namun, dalam penerapannya perlu memahami dimensi-dimensi penting sehingga dapat menyatu dengan budaya bangsa secara menyeluruh. Banks and Banks (1995) penerapan pendikan budaya dan karakter bangsa ke dalam lima dimensi, yakni:
Pertama, dilihat dari dimensi content integration, integrasi isi budaya dan karakter ke dalam kurikulum. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlandaskan satu prinsip think globally and act locally, berpikir global dan bertindak lokal dalam pengembangannya, mengharuskan integrasi microculture sebagai keunggulan lokal, namun karena keterbatasan kompetensi para pengembang kurikulum, maka pada satuan pendidikan tertentu harus meniru hasil pengembangan kurikulum yang sudah dikembangkan oleh satuan pendidikan lain. Akibatnya, walaupun di satu sisi telah mampu mengelakkan terjadinya pemusatan kurikulum karena memiliki sisi negatif tetapi di sisi lain tetap belum berhasil untuk mengintegrasikan kultur-kultur kecil yang ada di dalam masyarakat plural. Konsekuensinya pemahaman perspektif para siswa yang didapat dari pembelajaran dan pengetahuan tentang berbagai kultur yang ada tidak dapat terwujud dengan baik. Di sinilah perlu suatu pendekatan transdisiplinaritas yang bermaksud mentrasformasi nilai-nilai luhur budaya bangsa ke dalam konten setiap pelajaran.
Kedua, dimensi knowledge construction, konstruksi pengetahuan. Proses membangun pengetahuan melalui berbagai pendekatan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat yang berasal dari kultur yang berbeda juga belum terkonstruksi secara menyeluruh dalam mengembangkan KTSP. Pada saat proses ini telah tercapai, maka suatu mikrokultur akan dikenali, dihargai, dan diterima dalam suatu makrokultur. Proses ini disebut dengan perpindahan masyarakat multikultur ke suatu masyarakat transkultur yang mungkin dapat tercapai melalui sistem sekolah di mana anak-anak belajar untuk menerima perbedaan tanpa harus kehilangan identitas diri mereka masing-masing.
Ketiga, dimensi prejudice reduction, pengurangan prasangka. Sikap positif terhadap kelompok budaya yang berbeda dapat didukung dengan mengintegrasikan isi multikultur ke dalam semua mata pelajaran dengan mempelajari isu-isu sosial dan budaya. Sikap seperti ini harus secara terus menerus disosialisasikan sehingga semua sekolah dapat memahami arti pentingnya suatu penghargaan terhadap perbedaan. Di samping itu, perlu adanya ketentuan hukum dan aturan yang dapat dijadikan acuan bersama termasuk pemberian sanksi secara adil kepada siapa saja yang terbukti melanggar aturan. Jika mencermati penerapan dimensi ini ke dalam pendidikan di Indonesia, kelihatannya masih sering diabaikan termasuk dalam pemberian sanksi kepada siswa yang mencela, mengolok-olok, atau merendahkan kedudukan siswa lainnya.
Keempat, dimensi equity pedagogy, pedagogi yang setara. Dimensi ini berhubungan dengan interaksi antara guru dan murid yang memerlukan saling menghargai tentang budaya, bukan saja dalam kaitannya dengan kontribusi dan hasil karya manusia secara historis, melainkan juga pada setiap aspek pembelajaran. Guru membantu siswa membuat hubungan antara masyarakat, negara, suku, dan identitas global dengan apa yang mereka sedang pelajari. Namun demikian, disparitas berdasarkan letak geografis, status sosial, dan anak yang berkebutuhan khusus masih banyak ditemukan di wilayah Indonesia. Perbedaan perlakuan antara sekolah yang berada di kota dan di daerah-daerah pedalaman dan pesisir dapat dilihat dari perbedaaan sarana, prasarana, dan pembagian jatah tenaga guru. Perbedaan lain, ditemukan juga pada kurangnya perhatian yang memadai yang diberikan kepada anak-anak jalanan di samping belum disiapkan sekolah-sekolah yang dapat melayani anak yang berkebutuhan khusus (pendidikan inklusi).
Kelima, dimensi empowering school cultural, pemberdayaan budaya sekolah. Agar dapat membangun aksesibilitas pelajaran ke arah yang lebih baik, hendaknya dapat menguji dimensi pendidikan multikultural yang berhubungan dengan budaya sekolah dan struktur sosial. Beberapa variable yang menjadi perhatian di sini adalah praktek-praktek kelompok, iklim sosial, praktek asesmen, partisipasi dalam kegiatan ekstra kurikuler, dan harapan serta respon guru dan pegawai terhadap keberagaman. Dengan demikian, sekolah merupakan motor penggerak di dalam perubahan struktur masyarakat yang timpang oleh karena kemiskinan atau tersisihkan dalam kultur. Di samping itu, sekolah juga harus didesain untuk mampu menjadi agent of change terutama dalam mengubah paradigma masyarakat tentang hidup dalam keberagaman. Dengan demikian, bangsa Indonesia akan mampu menjadi bangsa yang mandiri, bermartabat, dan demokratis.
Referensi
Alwasilah, Chaedir dalam Yulvianus Harjono. Pendidikan Belum Membangun Karakter Bangsa. Kompas 7 Mei 2009.

Banks and Banks. (1995). Multicultural Education. Didawnload pada tanggal 20 Agustus 2008 dari http://www.ncrel.org/sdrs/pathwayg.thm.

Dewantoro, Ki Hajar. Pendidikan, Cetakan Kedua. Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa Yogyakarta, 1977.

Kartadinata, Sunaryo. Pendidikan Belum Membangun Karakter Bangsa. Kompas 7 Mei 2009.
Kurtus, Ron, Definition of Character, Diakses pada tanggal 12 Januari, 2010 dari http://www.school-for-champions.com/character/definition.htm.

Mitrafm, Kecerdasan Spiritual Menentukan Jati Diri. Diakses pada Tanggal 12 Januari 2010 dari http://mitrafm.com/blog/2008/12/15/kecerdasan-spiritual-menentukan-jati-diri/

Semiawan, Canny R. Trandisplinaritas sebagai Pendekatan Saintifik Menintegrasikan Ilmu Agama Islam dengan Ilmu Sosial dan Humaniora. Makalah Disampaikan Dalam Rangka Seminar Nasional “Integrasi Islam dan Sainteks” diselenggarakan oleh UIN Alauddin, Makassar Tanggal 27 Januari, 2007.

Sinetar, Ringkasan Spiritual Intelligence: What We Can Learn from the Early Awakening Child. Diakses pada Tanggal 12 januari, 2010 dari http://www.endonesia.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=14&artid=67.

Zohar, Danah dan Marshall, Ian. SQ, Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, Diterjemahkan Oleh Rahmani Astuti. Bandung: Mizan, 2001.

Wood, Nancy A. What is Character? Diakses pada Tanggal 11 January 2010 dari http://ezinearticles.com/?What-is-Character?&id=1828510.



About Author Muhammad Yaumi :

Muhammad Yaumi is a faculty member of the faculty of Education UIN Alauddin makassar##lt
gt##muhammadyaumi@gmail.com##lt
gt##


Article Source: http://www.bharatbhasha.net
Article Url: http://www.bharatbhasha.net/education.php/208471


Article Added on Wednesday, January 27, 2010
LD
Publishers / Webmasters
Tell A Friend
Leave A Comment!
Download this article in PDF
Report Article!
Search through all the articles:


112 Users Online !
Related Articles:
Latest Articles:
 
Education >> Top 50 Articles on Education
Category - >
Advertising Advice Affiliate Programs Automobiles
Be Your Own Mentor Careers Communication Consumers
CopyWriting Crime Domain Names DoT com Entrepreneur Corner
Ebooks Ecommerce Education Email
Entertainment Environment Family Finance And Business
Food & Drink Gardening Health & Fitness Hobbies
Home Business Home Improvement Humour House Holds
Internet And Computers Kiddos and Teens Legal Matters Mail Order
Management Marketing Marriage MetaPhysical
Motivational MultiMedia Multi Level Marketing NewsLetters
Pets Psychology Religion Parenting
Politics Sales Science Search Engine Optimization
Site Promotion Sports Technology Travel
Web Development Web Hosting WeightLoss Women's Corner
Writing Miscellaneous Articles Real Estate Arts And Crafts
Aging


Disclaimer: The information presented and opinions expressed in the articles are those of the authors
and do not necessarily represent the views of bharatbhasha.net and/or its owners.


Copyright © AwareINDIA. All rights reserved || Privacy Policy || Terms Of Use || Author Guidelines || Free Articles
FAQs Link To Us || Submit An Article || Free Downloads|| Contact Us || Site Map  || Advertise with Us ||
Click here for Special webhosting packages for visitors of this website only!
Vastu Shastra

Linux Hosting Provided By AwareIndia